Tampilkan postingan dengan label Hidupku di Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidupku di Jepang. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Saya Belajar dari Gempa Jepang

Seperti halnya Jepang, mereka belajar dari pengalaman gempa di Kobe pada tahun 1995, dengan gempa sebesar 6,8 SR, mengambil nyawa sebanyak kurang lebih 6000-an orang, dan korban luka-luka serta hilang yang jauh lebih banyak. Pemerintah jepang belajar, mereka membuat gedung yang tahan gempa semaksimal mungkin. Dan hal ini terbukti, Gempa kali ini adalah 9,0 SR (info terbaru dari JMA), hanya beda 0,1 dengan tsunami Aceh tahun 2004 yaitu 9,1 SR dengan memakan korban kurang lebih 100.000-an jiwa. Dan korban gempa serta tsunami di Jepang kali ini adalah sekitar 3000 jiwa. Bencana memanglah taqdir dari Allah, tapi bukankah Allah juga memerintahkan kepada manusia agar berikhtiar?

Saya pun belajar banyak hal dari negeri ini, saya mengalami gempa yang cukup besar di daerah saya, Tsurumi sekitar 7,9 SR getarannya (FYI, gempa Jogja 6,5, gempa new zealand 7,3, gempa Sumbar-Nias 7,1). 

Sore itu, saya lagi asyik membuat list makanan apa saja, yah nanti yang mau saya makan di Indonesia, karena keesokan harinya saya pulang ke Indonesia. Saya pun sedang berberes-beres, sebelum kepulangan saya ke Indonesia, saya mau menyenangkan hati sahabat-sahabat saya, satu persatu saya kasih hadiah. Rencananya sore itu, saya mau ke kantor pos mau mengirim barang untuk para sahabat saya di Jepang. Saya pun berencana mau membuat kue untuk suami saya, agar hatinya senang sebelum kami berpisah. Tiba-tiba saya merasakan gempa kecil, seperti biasa saat gempa saya masih tenang-tenang saja. Lama-kelamaan gempa ini menjadi `tak biasa` buat saya dan terasa berbeda dari gempa-gempa sebelumnya, saya langsung tancap ambil jaket dan jilbab lari keluar dengan sandal karet, tanpa kacamata. Semua orang pun juga berlarian keluar, syukur alhamdulillah apartemen saya di lantai satu, saya ngga kebayang kalau di lantai atas dalam kondisi hamil harus berlari-larian di tangga. Akhirnya gempa selesai. 

Lalu saya kembali lagi ke rumah, entah kenapa saya terpikir memasukkan dompet dan handphone ke kantong saya, padahal gempa sudah selesai. Ternyata feeling saya benar, gempa datang lagi dan jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Gempa kedua saya melihat microwave saya sudah goyang-goyang hampir jatuh, saya langsung menuju keluar lagi. Saat gempa ini, saya berkenalan dengan tetangga saya orang korea, seorang perempuan, chiyong namanya, selama ini saya kesal dengannya karena selalu mabuk dan membuat ribut. Dan sungguh di luar dugaan, memang kita tidak boleh menilai orang yang jeleknya saja, dia bertanya pada saya "bawa pasport, ga?" saya bilang "perlukah? saya hanya bawa dompet dan handphone." Lalu saya bilang, "saya takut kembali ke rumah lagi." Akhirnya dia menemani saya sambil memeluk saya ke dalam rumah dalam kondisi gempa, saya langsung masukkan dokumen penting dan sedikit pakaian. Disini, ada pelajaran pertama, saya harus menilai bahwa setiap manusia itu pasti punya kebaikan, seburuk apapun dia. Bahkan chiyong juga menemani dan menghibur saya, karena saya terlihat sangat panik, sendirian tanpa suami saat terjadi gempa ini. Saat itu saya sangat panik sekali, suami berpuluh-puluh kali tidak bisa dihubungi, padahal dia kerja di lantai 28 dan pinggir teluk. Memang saat itu jaringan telepon tidak beroperasi, lalu chiyong menyuruh saya menggunakan viber (sejenis software untuk menelpon lewat internet), akhirnya dengan viber suami saya dapat dihubungi dan dia baik-baik saja, Alhamdulillah.

Lalu, gempa mulai mereda dan kami semua kembali ke rumah. Sesampainya di rumah saya langsung beres-beres membawa baju saya dan suami, minuman, makanan dan memakai coat tebal serta boots, karena saat itu suhu udara masih dingin sekitar 7-10 derajat. Saya duduk di belakang pintu bersama barang-barang saya, agar kalau terjadi gempa besar lagi saya bisa kabur. Saya mengecek rumah, dan saat ingin mencharge handphone, ternyata listrik mati. Tidak hanya listrik yang mati, air dan gas juga mati. Oh, tidaaaaak.... Sudah jaringan telepon mati, kini listrik, air dan gas juga mati, dan selang beberapa detik membuat status di FB, internet pun juga mati. Bagaimana saya bisa bertahan di rumah yang semakin gelap, karena hari mulai menjelang malam. Malah saya lupa menampung air keran (kalau di Jepang air keran langsung minum) dan hanya tersisa sedikit lumayan. Yang penting jangan panik dan stress, kasihan janinku kalau aku stress dan panik. Saya menyuruh janin saya, "Nak, tendang bunda terus yah, kalau kamu tendang bunda terus, bunda ngga stress." Aku pun juga berusaha tidak stress dengan keadaan agar janinku tetap bergerak. Disini pelajaran kedua adalah, bekerjasamalah dengan janin anda, saat anda menghadapi bencana atau hal sesulit apapun. Karena Allah sudah menaruh nyawa pada mereka sehingga mereka bisa diajak berkomunikasi. Alhamdulillah, kerja sama saya dengan janin saya berjalan baik, dia tetap menendang saya dan saya tetap tenang dan banyak berzikir.

Gempa masih tetap ada, dan saya masih sangat ketakutan menghadapi hari semakin malam dan gelap, tanpa komunikasi, sendirian, tak tahu harus pergi kemana, karena ternyata chiyong dan kawannya pergi mencari makan. "Ya Allah, kalau memang taqdirku harus mati saat ini, aku pasrah, aku akan menjadi syahidah bersama janinku."  Saya benar-benar bingung dan tak tahu harus berbuat apa, semua keadaan sudah mulai mencekam, lalu saya berjalan keluar apartemen sebentar, dan saya bertemu tetangga saya yang lain, dia bertanya "Kok, ngga ke tempat evakuasi?" "Emang ada?" "Ada, sekitar 200 meter dari sini." tapi orang ini sendiri tidak tahu tepatnya dimana. Saya maasih bimbang harus meninggalkan rumah atau tidak, karena saya juga khawatir meninggalkan rumah, tapi suami saya tak tahu keberadaan istrinya  dimana. Akhirnya, saya tetap menuju ke tempat evakuasi, yang saya pikirkan saat ini adalah kondisi terburuk, kalau semuanya mati listrik, air, dsb lalu terjadi gempa dan sendirian, maka saya khawatir tak selamat. Akhirnya saya berjalan mengikuti orang-orang pergi ke arah mana, setelah saya tahu tempat evakuasinya, saya kembali ke rumah berjalan kaki dengan menuliskan pesan, baru kembali lagi ke tempat evakuasi. Benar, saat saya kembali ke rumah, suasana lebih mencekam daripada kuburan, sangat gelap dan dingin. 

Lalu saya kembali lagi ke tempat evakuasi, disini saya merasa lebih tenang, karena penerangan dan penghangat ruangan ada meskipun dari minyak tanah. Ternyata setelah membaca berita setelah bencana selesai, ada 100 kali getaran gempa dalam 5 jam ini, pantas saja, kemarin saya sudah tidak bisa lagi membedakan ini gempa atau perasaanku yang ingin pingsan karena sudah kelelahan.  

Kami mendapat biskuit dan air mineral satu-satu. Selama di tempat evakuasi, tak ada satu pun orang Jepang yang panik menghadapi gempa. Bahkan anak-anak masih sempat menghibur saya, "Listriknya mati, yah, lihat ini deh" sambil menunjukkan lampu buatannya sendiri yang tenaganya dia gerakkan dari memutar-mutar tuasnya. "Waaahh sugooi, arigatou yah" sambil saya tersenyum. Disini saya belajar lagi, bahwa kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah. Saya belajar bagaimana mereka bisa tidak panik mengahadapi gempa ini, sehingga saya juga terbawa suasana mereka agar tidak panik dan malah bisa lebih konsentrasi berzikir pada Allah. 

Banyak hal lain yang harus dipelajari dari gempa ini. Belajar pasrah dengan keadaan dan ketetapan Allah, belajar tidak mengeluh, belajar komunikasi di saat bencana, belajar berhenti dari kesedihan yang berlarut-larut, sebagaimana pemerintah Jepang yang saat ini sudah memikirkan rehabilitasi setelah gempa, padahal gempa baru terjadi 2 hari yang lalu. Saya banyak belajar dari orang-orang Jepang disini saat bencana ini. Seperti kondisi para pengungsi lainnya di Sendai, Iwate, Fukushima, dan sebagainya. Mereka mengungsi, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berebutan makanan di pengungsian. Pemerintah juga sangat peduli, bukan hanya terhadap warga negara Jepang, tapi juga terhadap warga negara asing seperti saya. Mereka tidak pilih-pilih siapa yang harus diselamatkan, seperti pidato Perdana Menteri Jepang tadi malam, "Satu nyawa, pun harus diselamatkan, Ayo berjuang bersama." Tidak ada istilah daerah terisolasi seperti yang sering kita dengar saat bencana di Indonesia, pemerintah rela mengeluarkan uangnya bermiliar-miliar untuk membentuk 50 ribu tim penyelamat beserta helikopter, sehingga daerah yang tak terjangkau pun bisa segera dievakuasi. Begitu juga dengan media disini, selalu mengeluarkan informasi terbaru yang tampil setiap menit, mulai dari info kereta, penerbangan, cara memasang gas disaat darurat,  info tentang air bersih, dan sebagainya. Semua ini ditujukan agar tidak ada korban jiwa yang jauh lebih besar. 

Bencana adalah hal yang tidak dapat dihindarkan, sekaya dan secanggih apapun negeri itu. Allah jauh lebih memiliki kekuasaan yang canggih, dan tugas manusia hanyalah berdoa dan berusaha. Ingatlah, setiap usaha manusia selalu Allah nilai kebaikan. Ambillah hikmah dan pelajaran dari bencana ini, bahwa manusia adalah makhluk yang sangat kecil di hadapan Allah. Buat yang tidak terkena bencana, jangan pernah mengait-ngaitkan bencana dengan kemarahan Allah. Saya sekarang baru merasakan bencana, bahwa bencana ini adalah kasih sayang dari Allah, Allah ingin menunjukkan kekuasaanNya bukan kemarahanNya seperti yang sering orang-orang tuduhkan. Saya berharap, setelah bencana ini, orang-orang Jepang yang atheis ini akan mempercayai adanya Tuhan yang memiliki kekuasaan atas alam ini. Amiin ya rabbal`alamiin.

Catatan Nurul Septiani
13 Maret 2011, Kanagawa-Jepang

Kamis, 10 Maret 2011

Gift for My Best Friend

Salmah san adalah seorang muslimah jepang yang menjadi sahabat pertama saya ketika saya sampai di Jepang. Dia juga punya hobby craft, tapi kayaknya dia jauh lebih handal daripada saya^^

Kami sering bertukar hadiah, maka dari itu sebelum saya meninggalkan jepang, saya ingin memberikan dia hadiah ini^^

Isinya adalah Benang katun Indonesia, Cotton lace yarn (tapi saya buat sendiri bobbinnya^^), kain patchwork motif bunga, dan kartu pos


Semuanya di pack jadi satu dalam balutan kantong kain ini


Aduh ada tali kamera nongol, maaf yah^^

Semoga Salmah san senang menerima hadiah ini^^

Minggu, 27 Februari 2011

Japanese Style Strawberry Shortcake


Malam-malam iseng, nyobain bikin kue ini....aduh memang masih amatir jadinya berantakan ngga jelas gitu deh. Yang penting hatiku senang hahaha :D

Rasanya enak, creamy banget pastinya hehehe

Senin, 27 Desember 2010

Negeri `Pembantu`

Akhir-akhir ini heboh status di facebook yang menarik perhatian saya
"Aduh, susah amet sih cari pembantu"
"Ini pembantu lelet banget, sih"
"Ga ada pembantu, aduh repotnya"

Maklum saja, teman-teman saya adalah kalangan ibu rumah tangga. Jujur, ketika saya membaca status-status mereka saya cuma bisa ketawa dan bercokol dalam hati "Dasar Indonesia!". Lho, kenapa jadi nyambung-nyambungnya Indonesia, sih? Karena profesi pembantu itu cuma ada di Indonesia dan India. Dan exportir TKW alias pembantu terbanyak adalah dari Indonesia. 

Saat lagi mengandung seperti saat ini, rasanya berat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Masak, nyetrika, beres-beres, dan lain sebagainya. Tapi mau bagaimana lagi, saya hidup di negara yang tak mengenal profesi pembantu. Hampir di setiap negara maju tidak ada profesi pembantu rumah tangga. Mungkin hanya pejabat saja yang punya "asisten rumah tangga" dan itupun digaji sangat besar sekali. 

Pernah berandai-andai bersama ibu-ibu yang lain, coba ya, di Jepang ada pembantu, lumayan cuma buat nyetrika aja, deh. Sayangnya, kami harus menyimpan harapan kami. Malas nyuci dan nyetrika, semua orang disini tinggal pergi ke kurininggu (Laundry) saja, beres deh! Tapi, biaya laundry kan mahal, sayang uangnya kalau harus ke laundry tiap hari, mending ditabung buat beli tiket liburan ke Indonesia atau jalan-jalan ke negara lain.

Di negara maju, ngga ada istilah pembantu. Mau punya anak 4 orang, 5 orang, atau berapa tetap saja semua pekerjaan dikerjakan sendiri. Memang, sih disini tidak ada pembantu, tapi disini masih ada nanny  (pengasuh anak). Tapi, nanny disini beda jauh sama baby sitter  di Indonesia, dari segi peran maupun segi penghasilan.

Sebagai contoh, sebelum saya mengandung, saya ditawari oleh seorang muslimah Jepang untuk mengasuh anaknya. Hanya 3 Jam sehari, mulai dari jam 16.00-19.00. Dengan gaji 1000 yen per jam (di kurs Indonesia Rp.100 ribu). Hanya kerja 3 jam per hari, dari hari senin-jumat (5 hari kerja). Jika di total maka gajinya adalah 60.000 yen per bulan alias Rp.6 juta. Dengan gaji sebesar itu, masih bisa menikmati libur di hari sabtu-minggu, masih bisa sekolah bahasa jepang dulu paginya, masih bisa masak buat keluarga saya. Nikmat, kan!

Nah, di negara maju pula, Jepang salah satunya. Ada sistem penitipan anak untuk ibu yang bekerja, Hoikuen namanya. Hoikuen ini ada yang disediakan pemerintah Jepang, ada pula yang disediakan oleh pihak swasta. Waktu itu, saya iseng-iseng cari pekerjaan di sebuah situs penyalur kerja di Jepang. Saya search Hoikuen, dan saya mau menjadi pengasuh. Banyak sekali pilihan yang ditawarkan, mulai dari tempat sampai gaji. Berbicara gaji yang ditawarkan oleh para Hoikuen tersebut sangat variatif, tapi semuanya sangat menggiurkan berkisar dari 180.000 yen-200.000 yen per bulannya, atau sekitar Rp.18 juta-Rp.20 juta. Melebihi beasiswa yang diberikan ke mahasiswa di Jepang yang hanya berkisar 120.000 yen-180.000 yen per bulannya. 

Terlihat sekali, bahwa peran pengasuh di negara maju dengan peran baby sitterdi Indonesia sangat berbeda. Peran pengasuh di negara maju, seperti layaknya guru TK yang membimbing anak-anak yang dititipkan agar menjadi kreatif, dan yang boleh menitipkan anak di Hoikuen adalah ibu yang bekerja, ibu rumah tangga tidak diperbolehkan menitipkan anaknya di Hoikuen.Sedangkan peran baby sitter di Indonesia hanya sekedar jadi "kacung" untuk ganti popok, nyuapin bayinya, dan pekerjaan yang sebetulnya bisa dilakukan oleh ibunya sendiri. 

Tapi, tetap saja di negara maju tidak ada profesi pembantu. Sang ibu hanya bisa menitipkan anaknya, lalu mengambil anaknya sekitar pukul 17.00 dan setelah itu semua ibu-ibu di negara maju harus memasak, menyetrika baju sendiri, mencuci, memomong anaknya kembali, dan segala macam pekerjaan yang dilakukan oleh para pembantu di Indonesia. 

Makanya saya katakan "Dasar Indonesia", karena di Indonesia saat ini, para ibu rumah tangga tidak bisa lepas dari jeratan para pembantu. Saya, sih mengambil hikmahnya saja ketika saya hidup di Jepang tanpa pembantu. Badan saya jadi sehat, karena banyak beraktivitas. Lalu, saya dan suami juga tidak risih ketika kami mau bermesraan. Sebetulnya tidak memakai pembantu banyak manfaatnya, lho.

Justru, ketika kita memakai pembantu yang tinggal 24 jam di rumah kita seringkali menjadi petaka. Seperti contoh, ada sebuah cerita di Indonesia, seorang warga negara Australia menikah dengan seorang wanita Indonesia. Mereka hidup sangat makmur sekali di Indonesia, hingga sang istri hanya mengandalkan pembantunya untuk memasak, menyiapkan makanan, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya sang WNA tadi menikah lagi dengan pembantunya. 

Ah, Indonesia memang negeri `pembantu`. Seandainya di Indonesia tidak ada profesi pembantu, maka negeri kita akan memiliki kembali harga dirinya. Tidak lagi direndahkan oleh negeri tetangga karena profesi orang indonesia disana kebanyakan adalah pembantu, tidak lagi ada rumah tangga yang rusak, tidak ada lagi anak-anak yang terdzolimi karena ibunya harus merantau jadi pembantu, dan lain sebagainya.

Salam ^^
Nurul Septiani, Yokohama 
28 Desember 2010

Selasa, 14 Desember 2010

Maaf Baru Nongol

Hehehe, halo semuanya, maaf ya aku baru nongol. Baru sekarang bisa beraktivitas normal. Pertama karena hamil muda bawaannya muntah terus, ditambah lagi suhu udara yang lagi dingin di winter ini, bikin aku males bergerak. Lengkap sudah!

Apa kabar semuanya, mudah-mudahan sehat ya....

Kabar yang tidak menyenangkannya adalah :
Aku batal ikut ujian Noryouku Shiken (TOEFLnya Jepang). Bayangkan saja, setiap jam muntah terus. Padahal kartu ujian dan uang pendaftaran sudah terbayarkan. Ya, sudahlah belum rezeki hehehe.

Kabar Menyenangkannya adalah :
Keponakanku lahir alhamdulillah. Sepupuku ini bernasib sama denganku, 5 tahun pernikahan belum hamil dan akhirnya dikaruniai bidadari cantik di akhir November kemarin. Senangnya....

Semoga hari-hari kita selalu gembira ya. Saya juga tampaknya masih agak kurang loading nih buat menulis, sudah lama sekali tidak menulis.

Sabtu, 27 November 2010

"Positif" Thinking

Postingan ini dibuat tanpa ada maksud rasa ingin lebih dari orang lain, rasa bangga, bukan itu saudariku...Tapi untuk rasa syukurku pada Allah.

Alhamdulillah setelah dua tahun lebih 1 bulan kami menikah, akhirnya Allah memberikan keturunan pada kami. Kini dia sudah ada dalam kandunganku berumur hampir 7 minggu. Alhamdulillah. Suamiku melarangku membuat status kehamilanku secara langsung di Facebook karena khawatir nanti akan ada yang tersinggung jika belum hamil, dan takut rasa sombong itu hadir , paling statusku hanya "Alhamdulillah, bahagia, dan lain sebagainya, tapi karena status seperti itu saja sudah mencurigakan kalau aku hamil hahaha dan akhirnya diselamati :D, . Tapi aku mohon pada beliau, agar aku boleh memposting cerita kehamilanku di blog, dan dibolehkan.

Setelah menikah aku tak kunjung-kunjung hamil, hingga akhirnya aku memeriksakan kandunganku ke berbagai macam dokter bahkan sampai ke rumah sakit Internasional yang katanya dokternya terbaik dan banyak yang berhasil hamil. Dokter yang pertama memberikanku obat penyubur kandungan, yang katanya mampu membesarkan sel telur sehingga sperma lebih cepat menangkap sel telur dan bisa hamil. Tapi, ternyata bukan kehamilan yang kudapat, malah menstruasiku jadi berantakan, tubuhku gemuk, dan selalu mual-mual saat menstruasi.

Lalu aku beralih ke dokter lain, memang dokter yang kedua ini sangat teliti. Dia memeriksa semua penyebab ketidaksuburanku sangat detail. Hingga akhirnya aku harus di HSG (bukan USG lho), untuk melihat apakah ada penyumbatan rahim atau tidak. Ya, akhirnya inilah saat terberatku dalam hidup, tuba falopii sebelah kiri ku tak berfungsi ditambah hormon estrogenku yang sangat minim, aku divonis sulit memiliki keturunan.

Aku menjalani semua terapi yang diberikan oleh para dokter, termasuk penembakan rahim dengan sebuah cairan agar sumbatan itu terbuka, dan itu rasanya sakit sekali dan aku tidak kuat, aku hanya sanggup menjalani tembak rahim 2 kali saja. Akhirnya, dokter ini seperti tidak ada pengertian sama sekali kepadaku, aku merasa uangku sudah habis banyak tapi seperti cuek saja tidak mengerti perasaanku. Aku putuskan bulan November 2009 aku berhenti pengobatan, tapat kepergian suamiku ke Jepang. Saat itu aku berpisah dengan suamiku selama 6 bulan, karena suamiku dalam masa training tidak boleh membawa istri.

Selama masa berhenti pengobatan, mamaku terus mengatakan padaku "Udah, percaya itu sama Allah bukan sama dokter, obat, buku ini, buku itu" akhirnya aku pasrah saja. Menjalani hidup tanpa suami sementara dengan santai. Oya, FYI saja, saya juga mencoba semua pengobatan tradisional tapi tidak terlalu berpengaruh, malah kadang membahayakan, meskipun merknya Islami.

Lalu, kesempatan Umroh datang. Orang tuaku mengajakku pergi Umroh sekeluarga pada bulan Maret 2010, disana aku tak bisa berhenti menangis untuk memanjatkan doa dan keinginanku untuk memiliki keturunan. Lalu saya yakin pada Allah saya pasti bisa hamil.

Akhirnya, bulan Mei 2010 saya datang ke Jepang dengan harapan saya bisa hamil disini. Saya masih percaya dengan kata-kata mama saya. Banyak orang menyarankan ke dokter ini dan itu, tapi saya tebas saja. Saya makin kaget karena di Jepang menstruasi saya tambah kacau, dua bulan tidak haid tapi tidak hamil. Wah, saya pasrah saja, lah. Akhirnya Haid itu datang di bulan Ramadhan dan tepat sebulan kemudian saya haid normal kembali.

lalu saya baca-baca sebuah penelitian dari Universitas King Abdul Azis, Saudi Arabia bahwa shaum dapat meningkatkan kesuburan. Disini saya sadar, saya memang paling malas shaum sunnah. Akhirnya saya shaum sunnah dan dibatu pijat refleksi sendiri oleh suami saya setiap pagi, menstruasi saya di bulan oktober lebih dari biasanya alias 2 minggu.

Ternyata, sebulan kemudian, menstruasi saya telat dua minggu. Saya pikir, ah ini paling biasa haidnya tidak teratur. Tapi kok rasanya beda ya seperti mual dan muntah, kaki kebas, karena saya tidak sabar menunggu pagi hari, saya langsung tes kehamilan di malam hari. Alhamdulillah, Allahu Akbar SAYA HAMIL. Lalu keesokan harinya saya pergi ke dokter untuk cek lagi, dokternya bilang "Hai, Ninshin, Omedetou" (Iya, hamil, Selamat!)

Sekarang si baby sudah berusia 7 minggu dalam kandungan om dan tante semua, mohon doanya ya agar bunda dan dedek bayinya sehat selamat sampai lahir. Amiin.

Selasa, 23 November 2010

Si Penghafal Quran Cilik di Jepang


Tanpa terasa, saya sudah setengah tahun tinggal di negeri Sakura. Banyak kisah-kisah insppiratif yang makin meningkatkan kecintaan saya pada Allah semata. Entah, mungkin rasanya di negeri minoritas yang serba sulit, sulit mencari makanan halal, sulit mencari jilbab, sulit mencari buku-buku Islam, dan lain sebagainya. Akan tetapi, semua kesullitan tersebut, tidak membuat kami para muslim menjadi  tidak semangat dalam menuntut ilmu. Meskipun jarak dari rumah ke masjid sangat jauh, harus ditempuh puluhan kilometer bukanlah penghalang buat mereka yang haus akan ilmu. 

Kali ini, saya akan bercerita tentang sebuah kisah yang paling menggugah hati saya, bahkan dalam hidup saya.

Anak kecil itu masih polos, masih berumur 10 tahun 10 bulan. Dia disalami banyak orang di Masjid Otsuka, kemarin sore. Anak kecil ini adalah Alayen, seorang anak yang sudah mampu menghafal seluruh isi Quran, dengan bacaan Mumtaaz. Memang anak ini bukan keturunan Jepang, melainkan keturunan Pakistan. Tapi, hampir semua orang Pakistan yang ada di Jepang tinggal selamanya di Jepang untuk berdakwah dan berbisnis. 

Kemarin sore adalah sebuah momentum bagi seluruh muslilm di Jepang. Momentum untuk meningkatkan kecintaan kita pada Quran. Alayen membuka mata banyak muslim agar mengikuti jejaknya untuk menghafal Quran. Kemarin sore pula, dia diberi gelar Al-Hafidz oleh Holy Quran Memorization International Organization, Saudi Arabia. Pemerintah Saudi Arabia datang langsung ke tempat kami untuk memberikan gelar tersebut kepada Alayen. Bahkan, Pemerintah Saudi Arabia pun memberikan beasiswa kepada Alayen "Full Scholarship" sampai kuliah.

Alhamdulillah, panitia memberikan kesempatan kepada orang tua dan guru hafidz Alayen untuk berbagi pengalamannya. Inilah sepenggal cerita dari Ayah Alayen yang membuat saya sadar akan pentingnya Quran (Untung ngomongnya pakai Bahasa Inggris, selamat deh hehehe).

Memang kita hidup di negeri yang bukan non Muslim, tapi saya ingin mempertahankan agar anak-anak saya tetap mendapat pendidikan Islam. Saya tidak memasukkan anak-anak saya ke nihon no gakko (Sekolah Jepang). Saya biarkan anak saya hanya belajar di Masjid dan menghafal Quran, karena saya ingin dia benar-benar fokus menghafal Quran dan tidak memiliki pikiran lain selain menghafal Quran. Lalu orang-orang di sekitarku bertanya "kenapa tidak dimasukkan saja ke sekolah Jepang sambil menghafal Quran, jadi dia nanti bisa pintar keduanya?". Saya yakin pada Allah, bahwa ketika seseorang sudah bisa menghafal Quran, maka dia akan mampu menguasai semua bidang. Lalu Ayah Alayen berkata dengan bangga, "Sekarang anak saya bisa melanjutkan sekolah langsung naik kelas 5 SD melalui test di sekolah, dan kini dia bisa berbahasa 4 bahasa dengan baik, Inggris, Jepang, Arab, dan pastinya bahasa Urdu."

Sekarang mata saya terbuka, sebelum belajar apapun, manusia itu harus belajar Quran. Dan yakinlah,  orang-orang yang mempelajari dan mengajar Quran akan mendapat derajat yang lebih tinggi. Semoga, kita juga bisa menjadi penghafal Quran.

NB :
Insya Allah masih akan ada lagi penghafal Quran cilik, kemarin anak-anak kelas Hafidz Masjid Otsuka, Masjid Yokohama dan Masjid Hira datang untuk Hapyokai (Pertunjukan). 
-- 

Jumat, 19 November 2010

Planning Habis Ujian

Saya malah ngga mikirin ujiannya, kan cuma coba-coba dan ngga ada tuntutan saya buat lulus hehehe, kan bukan anak kuliahan......Ikut ujian JLPT cuma iseng sebagai ibu rumah tangga yang belajar bahasa Jepang sendiri di rumah dan di kantor kecamatan, bisa ngga lulus seperti anak-anak yang kuliah bahasa jepang. Hehehe, intinya suami saya hanya menuntut saya untuk bisa baca tulisan kanji dan bisa ngobrol sama orang pakai bahasa jepang, bukan untuk lulus ujiannya.

Kalau ngobrol daily conversation alhamdulillah sudah bisa, sering dipakai soalnya kalau lagi ngajar di Masjid Yokohama. Kalau sekedar baca buku tutorial menjahit, merajut, buku anak sudah bisa. Yang belum bisa itu adalah, baca koran, baca buku-buku islam bahasa Jepang, pokoknya bacaan yang berat lah, terus mendengarkan ceramah pakai bahasa Jepang belum bisa. Jadi, setiap kajian hadits di masjid yokohama, aku hadir dan menjadi pendengar yang baik walaupun belum mengerti.

Intinya memang bahasa itu jadi bisa karena kebiasaan....Saya harus belajar lebih keras lagi, minimal untuk bisa mendengarkan kelas hadits...huhuhu.......

Planning habis ujian ini, aku mau ngapain ya :
1. Kalau lulus hiroshima buat liburan (hadiah dari suami)
2. Pingin bikin lomba menjahit baju muslimah (untuk blog fashion)
3. Pingin merombak semua isi lemari, baju-bajuku mau ku modifikasi.
4. Pingin kasih purezento buat anak-anak murid di masjid yokohama.
5. Bikin tas baru, merajut selendang, merombak jilbab lama jadi model baru.

Udah dicatat semua biar ngga kelupaan nanti....mmuuaaaahh....

Selasa, 16 November 2010

Cerita Idul Adha part 2

Sebenernya aku sudah mencoba tidak mau lagi sholat di Kedutaan, tapi terpaksa karena ada janji, temen mau kasih alat-alat masaknya ke aku. Baiklah, kita mulai ceritanya. Kalau yang sudah baca ceritaku tentang shalat Idul Fitri pasti kebayang sama cerita yang sekarang.

Pagi-pagi berangkatnya buru-buru, udara dingin sekitar 7 derajat. Pokoknya sampai harus jalan cepat dan lari-lari supaya ngga ketinggalan shalat Ied yang mulainya jam 8. Sekitar 45 menit-1 jam dari rumah. Begitu sampai disana, alhamdulillah langsung dapat tempat shalat. 

Langsung takbiran sendiri, terus tiba-tiba ada kehebohan apakah gerangan? 
Ternyata, hari ini pak Boediono (wakil presiden Indonesia) ikut shalat bersama kami. Harusnya shalat Iednya kan dimulai jam 8, sudah jam 08.05 kok ngga mulai-mulai. Karena pak Boediono belum datang. Akhirnya shalat baru dimulai pukul 08.30. Padahal, aku sudah berangkat buru-buru. 

Kebayang dong, yang punya jadwal kerja setelah shalat Ied, atau mungkin harus presentasi di kampus atau ujian di kampus jadi telat semua. Sebaiknya kan mereka sadar, kalau mereka bertamu ke negara yang paling terkenal dengan ketepatan waktunya, Jepang. Yah, mungkin ini jadi pelajaran ya buat semua pihak, bahwa waktu itu sangat berharga sedikit apapun. 

Hehee, tapi saya senang kok mereka datang dan shalat bersama. Makasih atas kedatangannya ya pak, Gedung SRIT (Sekolah Republik Indonesia-Tokyo) jadi bersih, kamar mandi ngga ada kecoanya lagi, gordynnya diganti. Sering-sering aja pak boediono dateng ke Jepang, biar gedungnya bersih terus hehehe, kalau perlu pak Presiden, biar gedungnya jadi terawat heheehe.....

Selasa, 09 November 2010

Antara Jepang dan Negeriku Part 2 : Gempa

Sekarang part dua membahas tentang gempa dan tsunami, maaf kalau sebelumnya saya berjanji tentang banjir dan sampah. Karena data-data saya belum lengkap dan yang lagi ada ide tentang masalah gempa yang sedang in di Indonesia.

Indonesia dan Jepang sama-sama negara kepulauan yang rawan bencana. Dan pastinya rawan gempa juga. Sudah sebuah sunnatullah negeri kepulauan bakalan sering kena gempa. Di Jepang, saya sendiri sudah mengalami empat kali gempa. Pertama-tama datang, terus ditinggal suami kerja sendiri di rumah, tiba-tiba ada gempa. Saya heboh sendiri, lalu saya lihat orang di luar apartemen pada biasa aja. Saya terheran-heran dan terbingung-bingung keanehan dalam hati "Eh, kok ngga ada yang heboh kayak gue sih?"

Gempa atau musibah lainnya itu memang suatu taqdir dari Allah dan kita tidak bisa mencegah dia untuk tidak datang. Tapi, kita wajib berusaha untuk mengantisipasi bukan?

Setelah saya lihat betul-betul, bangunan-bangunan kantor, perumahan, apartemen, sekolah, dan lain-lain di Jepang itu kaku. Tembok-tembok yang super tebal dan kokoh dengan atap yang kokoh pula. Mereka sengaja membangun semua fasilitas yang ada di negeri ini dengan bangunan tahan gempa. Karena mereka sadar bahwa negerinya akan sering kena gempa.

Berbeda halnya dengan Indonesia, para developer perumahan di Indonesia pasti ingin mencari keuntungan setinggi-tingginya dengan menekan biaya pembangunan. Lalu para kontraktor-kontraktor pembangunan gedung-gedung pemerintahan, sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya pun banyak yang mengkorupsi anggaran pembangunan gedung tersebut, jadi wajar saja begitu ada gempa yang skalanya cuma 5 skala richter langsung retak-retak.

Terus, saya selalu terheran-heran kalau melihat sebuah masjid tetap berdiri kokoh saat ada gempa. Walaupun ada juga masjid yang hancur lebur, tapi tak menarik untuk disorot oleh wartawan. Seharusnya, sebuah masjid yang tetap kokoh berdiri ini mejadi pelajaran buat para developer dan arsitek di Indonesia. Kenapa masjid-masjid ini berdiri kokoh?

Tahukah anda arsitek muslim yang bernama Mimar Sinan? Seorang arsitek zaman kerajaan ottoman sekitar tahun 1400an yang saat itu diperintahkan raja Mehmet untuk membuat masjid terbesar. Mimar sinan tidak hanya membangun masjid terbesar pertama di dunia, Sehzade Masjid. Tapi, dia membangun sekitar 497 bangunan di seluruh jazirah timur tengah. Dan ajaibnya, masjid yang dibangun ribuan tahun lalu ini masih ada sampai sekarang. Ini bukan serta merta ajaib, tapi rekonstruksi bangunan masjid yang kokoh, atap tebal seperti kubah, banyak tiang-tiang penyangga menjadi penahan saat ada musibah terjadi. Ternyata ilmu bangun-membangun sebuah gedung yang kokoh pun sudah dipelajari umat Islam sejak dulu kala. Bahkan ilmu ini pun dicontek oleh Michelangelo, arsitek sekaligus seniman dari Italy.

Tanpa disadari, ilmu membangun masjid ini kita terapkan hingga sekarang. Saat membangun masjid, pasti tidak jauh ada kubah, ada tiang penyangga yang kokoh, dan lain sebagainya. Selain itu ada beberapa hal yang membuat masjid-masjid di Indonesia tetap berdiri utuh saat gempa :
1. Saat pembangunan masjid, pasti panitia pembangunan masjid sangat takut untuk melakukan korupsi. Sehingga, bahan-bahan yang dipakai untuk pembangunan pun berkualitas.
2. Setiap masjid pasti memiliki ruang hijau, dan tidak berdempetan dengan bangunan lainnya.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa sebetulnya Islam telah mengajarkan kita untuk membuat bangunan yang tahan gempa, Islam mengajarkan kita untuk mencintai alam semesta ini.

Written by Nurul
Yokohama

Minggu, 07 November 2010

Antara Jepang dan Negeriku Part 1

Tidak bermaksud hati untuk membanding-bandingkan negeriku tercinta dengan negeri manapun di dunia ini, tapi apa salahnya kalau kita belajar agar menjadi lebih baik, bukan?

Pertama, kalau ada mahasiswa dan istrinya datang ke Jepang. Pasti dia bilang jepang itu keren dengan segala kekerenannya pada saat bulan-bulan pertama, lama kelamaan jadi bosan juga karena kehidupan monoton, ngga ada tetangga yang bersapa ria, dan lain-lain. Tapi, pas pulang ke Indonesia, pasti semua pada bilang "aaaaa, Nihon e moto ikitai" alias pingin pergi ke Jepang lagi, setelah di Indonesia mengalami kembali pencopetan I-Phone di kereta, macet ngga jelas di Jakarta, ngurus KK di kelurahan yang mata duitan, dan sebagainya.

Jepang dan Indonesia sama-sama negeri kepulauan yang rawan bencana, sama-sama punya gunung berapi di 75% wilayahnya, sama-sama rawan tsunami dan gempa, sama-sama dilewati angin laut jadi sering ada badai, malah Jepang jauh lebih melarat dari Indonesia, alias sumber daya alam sedikit, dan bukan negara tropis penghasil bahan pangan. Kalau dilihat dan diramal, mungkin nih negara kagak bisa menghidupi rakyatnya. Tapi, para peramal itu salah, negeri ini malah menjadi negeri nomor satu di dunia. Indonesia, adalah negeri yang kaya hasil alam, hasil pangan,mineral, gas, dan lain-lain pokoknya nih negeri tajir abis, deh. Sampai-sampai peramal dulu menggambarkan nih negeri bisa menghidupi rakyatnya sampai hari kiamat, dan mengundang perhatian penjajah untuk merauk segala isi kekayaannya. Apa dinyana, para peramal ini salah total, negeri ini hampir menjadi yang terburuk di dunia.

Tapi kan Jepang menjajah Indonesia, jadi dia lebih kaya dong? Eh, inget ngga kasus Pearl Harbour, Nagasaki, dan Hiroshima. itu kejadiannya kan tahun 1945. Saat Indonesia Merdeka, Jepang malah hancur lebur, hancur total dari segi perekonomian, semua carut marut dan ngga tahu nih negara mau jadi apa. Udah miskin, sering kena bencana, lalu dihancurkan lagi, kebayang ngga nih negeri mau jadi apa???? Jadilah Jepang negeri yang mati saat itu. Lalu, kenapa mereka begitu cepat bangkit, bahkan menjadi nomor satu dalam segi apapun?

Ada sedikit cerita yang akhirnya membuat saya mengerti, mengapa mereka bisa seperti itu. Tadi malam, saya menonton sebuah acara di TV. Seorang tukang ikan di kepulauan Okinawa menceritakan masa lalunya. Dulu, terumbu karang okinawa hampir-hampir punah, dan dia sangat bersedih sekali karena harus kehilangan pekerjaannya sebagai nelayan. Tiba-tiba dia mendapatkan ide, mengambil sejumput terumbu karang di laut, lalu dia kembangbiakkan di rumahnya sendiri dengan akuarium. Lalu ia tanam satu-satu terumbu karang itu di laut, hingga akhirnya terumbu karang itu pun terus tumbuh dan berkembang, sehingga ikan-ikan pun makin banyak berkembang biak dan dia tidak kehilangan pekerjaannya.

Saya berfikir dan miris dalam hati saya, "Ya Allah, mereka yang non muslim saja bahkan tidak memiliki agama, mencintai alam ini dengan begitu tulusnya dan juga konsisten. Sekarang kalau saya jalan-jalan ke kota Tokyo atau Yokohama, saya masih bisa berteduh di bawah pohon sambil menikmati bekal makan siang di kouen (taman) di temani oleh gemericik air kolam di taman tersebut, atau hanya suara burung gagak. Padahal tak jauh dari kouen-kouen yang indah itu ada tol bertingkat empat, kereta listrik tanpa masinis, dan lain sebagainya yang canggih. Di balik kecanggihan-kecanggihan teknologi yang mereka punya, mereka memiliki hektaran taman-taman yang indah, ruang hijau yang membuat alam ini tetap seimbang. Dan tak ada satu orang pun yang berani mengganggu keindahan alam ini.

Taman-taman yang indah tersebut adalah hasil pajak yang selama ini dibayarkan oleh rakyatnya, jadi betul-betul terasa ketika kita membayar pajak pada pemerintah, pajak itupun digunakan sebaik mungkin untuk membangun negerinya. Yang saya heran, bahkan mereka terkadang tak percaya tuhan, tapi mereka jujur seperti tuhan melihat mereka.

Bagaimana penanganan banjir dan sampah?
Lanjut lagi ya nanti di Part 2

Minggu, 17 Oktober 2010

Menjadi Muslim, Resikokah?

Assalamu'alaykum teman-teman, semoga hari ini dan hari selanjutnya menjadi hari yang indah. Dalam sela-sela waktu saya, saya mencoba menuliskan hal-hal keislaman yang saya alami. Supaya ada kenangan indah tentunya yang bisa diceritakan ke anak cucu kita nantinya. Kalau ada saran, kritik, komentar, makasih ya.

Menjadi Muslim, Resikokah?
Sempat terlintas di benak saya betapa indahnya negeriku, mau kemana-mana ngga akan dilihatin orang, ngga akan ditanya-tanyain orang soal hijab. Mau pergi kesana, kemari, masuk keluar mall, pokoknya dalam bayangan saya nikmat, deh.
Bulan berganti bulan, lama-lama saya terbiasa dengan tatapan aneh dari orang-orang sekitar kepada saya. Saya juga mulai terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan. Tapi, saya ngga terbiasa dengan sikap diskriminasi. Inilah resiko menjadi seorang muslim di negeri minoritas.

Waktu itu, saya pergi ke sebuah mini market untuk belanja sayur dan kebutuhan lainnya. Setelah ritual pilah-pilih selesai, saya langsung beranjak untuk membayar belanjaan saya di kasir. Saat saya mau bayar, tiba-tiba petugasnya bilang "Achira desu" (disana). Tapi yang saya lihat disana hanyalah kasir kosong alias tidak ada orang yang menjaganya. Saya pikir jam kerja petugas tadi sudah selesai, sehingga saya tidak boleh bayar di kasirnya. Tapi ternyata malah ada laki-laki India yang diperbolehkan di kasirnya. Rasanya geram banget saat itu. Akhirnya, ada petugas lain yang datang menghampiri kasir kosong tadi, dan dia mengucapkan kata "Maaf" kepada saya. Padahal, jelas-jelas saya sudah mengantri duluan, kenapa yang dipersilahkan di kasirnya malah orang lain. Sampai semua mata pengunjung toko melihat ke arah saya, rasanya mata saya hampir basah saat itu. Saya berusaha untuk tidak marah, karena akan makin memperburuk citra Islam nantinya. Lebih baik saya mengalah, daripada cari-cari masalah.

Beberapa minggu kemudian, saya main ke rumah teman saya. Di rak bukunya, ada tertera buku "Menyemai Cinta di Negeri Sakura" karya mbak Lisza Anggraeni dan Mbak Setyawati (sering ketemu orangnya malah belum baca bukunya :p). Langsung aja kepingin baca. Setelah saya baca, ternyata kisah-kisah mereka menjadi muslim di negeri Sakura ini juga banyak mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Seperti mbak Lisza, saat dia berjalan tiba-tiba dikatain "hantu". Lalu mbak Setyawati, juga pernah mengalami hal yang sama seperti saya, diskriminasi saat membayar di kasir. Kok, bisa sama sih kejadiannya. hehehe

Cerita selanjutnya adalah di kelas bahasa Jepang saya. Alhamdulillah sekarang saya sudah sampai tingkat Shookyu (Intermediate). Kelas baru, murid baru, juga guru baru. Pengalaman pertama di kelas ini, ada yang menyenangkan, ada juga yang mengesalkan. Menyenangkan karena akhirnya saya bertemu dengan teman-teman muslim, walaupun bapak-bapak, sih. Pertama, namanya munir, dari negara Kenya dan yang satunya lagi namanya Hesyam dari negara Mesir. Ternyata istri Hesyam adalah teman saya, hehehe baru tahu wajah suaminya akhirnya.

Di kelas baru ini, teman-temanya menyenangkan. Cuma ada satu guru yang agak-agak gimana sama saya. Sebelum saya cerita tentang guru ini, perlu diketahui kebudayaan di Jepang seperti apa. Memanggil orang yang sudah dikenal dengan kata "anata" (kamu) adalah hal yang tidak sopan. Jadi, kalau anda sudah kenal seseorang, harus memanggil dengan namanya "Nuruu san (Nama saya di Jepang).

Di kelas ini, muridnya hanya 6 orang. Dan semuanya sudah memakai nametag masing-masing agar sensei kami bisa memanggil kami semua dengan nama. Kebayang kan, kelas kecil dan semua memakai nama pasti sangat mudah untuk menghafal nama-nama teman-teman kita, kan. Di kelas yang kecil ini, hanya nama saya yang tidak pernah disebut oleh sensei saya. Dia selalu memanggil saya dengan kata "ANATA". Padahal jelas-jelas saya menggunakan name tag dengan tulisan Nuruu. Nama saya tidak pernah disebut sedikitpun olehnya. Tapi, nama teman-teman yang lain semuanya disebut, Uka san (mongol), riri san (peru), kimu san (korea), hesyam san (mesir), muneer san (kenya).  Rasanya kesal sekali, apakah karena saya seorang muslim lalu saya didiskriminasikan lagi. Saya cerita ke suami, yah memang harus sabar kalau jadi muslim disini. Tapi, lain kali kamu juga harus berani, berani membela diri kalau diperlakukan seperti itu, bilang dong ke senseinya "watashi no namae wa nuruu desu" sampai berkali-kali, biar manggil kamu pakai nama, bukan Anata lagi. Ah, ya sudahlah....Senseinya sudah diganti jadi yang baik hati hehehe^^

Senin, 11 Oktober 2010

Workshop Quran bersama Al Hafidz Ameena

Workshop Quran bersama Al Hafidz Ameena

by Nurul Septiani Hadianto on Tuesday, October 12, 2010 at 3:29pm
Pertama-tama, saya mau memperkenalkan guru kami. Dia adalah seorang penghafal quran, dia adalah wanita keturunan china yang dilahirkan di China dan besar di Saudi Arabia. Umurnya masih sangat muda sekali, 26 tahun. Tapi, dia sudah menjadi penghafal quran. Sekarang dia tinggal di Tokyo dan mengajara quran di Masjid Otsuka.

Lalu, dia datang ke acara workshop yang kami buat untuk menunjukkan pentingnya Al-Quran dalam hidup kita. Dan juga bagaimana mengingat setiap ayat di otak kita setiap waktu. Dan saya tidak mau kehilangan kesempatan ini.

Quran in Our Life (Quran dalam hidup kita)

Sekarang, saya hanya ingin anda tahu bahwa quran begitu penting dalam hidup kita. Saya sekarang mau bertanya kepada anda sekalian semua, apakah anda mencintai Allah? Bagaimana anda mengekspresikan cinta anda kepada Allah?

Quran dalam kehidupan kita sangatlah penting, pentingnya sama seperti makan dan minum. Bacalah quran di waktu-waktu utama anda, jangan di waktu senggang anda saja. Jangan mengatakan anda hanya akan membaca quran ketika memiliki waktu. Jadikanlah aktivitas membaca al-quran itu seperti layaknya aktivitas makan dan minum.

Sekarang pula, aku ingin bertanya lagi pada kalian, “Apakah kalian mencintai Allah? Pasti kalian semua akan menjawab, tentu saja aku mencintai Allah melebihi cintaku pada suamiku. Jika anda benar-benar mencintai Allah, berapa kali anda membaca quran dalam sehari? Jika anda mencintai Allah dibandingkan suami anda, seberapa intense kah anda dengan Al quran. Ketika anda mencintai suami anda,  anda pasti sangat menunggu-nunggu email darinya, sms darinya. Dan perasaan itulah yang seharusnya anda miliki ketika anda mencintai Allah. Selalu cinta untuk membaca quran, setiap hari, setiap waktu layaknya surat cinta.

Setelah itu, anda sudah membaca quran dan rutin. Anda juga harus mengajarkan anak-anak and baca quran. Kapankah saat terbaik mengajarkan anak-anak anda membca quran. Adalah saat-saat dimana anak anda belum bisa bicara sedikitpun. Saat masih bayi. Hanya dengan meninabobokan anak-anak anda sebelum tidur dengan lantunan zikir dan ayat-ayat quran, mereka akan terbiasa dengan suara Al-quran. Dan ketika sudah besar, mereka akan mampu menghafal Al-Quran.

Ketika anda ingin mencoba menghafal quran, maka lakukanlah. Anda sudah memiliki niat. Ketika anda sudah memiliki niat untuk menghafal quran, jangan ditunda-tunda lagi. Lakukan segera! Ketika anda sudah memiliki niat lalu anda meninggal, maka anda sudah memiliki pahala keutamaan orang-orang yang menghafal Quran. Dan di akhirat nanti anda akan dipakaikan sebuah mahkota yang terbuat dari permata. Lalu orang-orang akan bertanya-tanya “Apa yang kamu lakukan di dunia, sehingga kamu mendapatkan mahkota cantik ini?”

Lalu bagaimana cara memulai untuk menghafal Quran? Banyak orang yang bilang menghafal quran itu sulit. Padahal itu salah, Allah menciptakan Al-Quran dalam bahasa yang mudah dipahami. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS 12:2). Dan aku memiliki seorang saudara, dimana ia sudah tua, tapi dia mau menghafal quran. Dan dia melakukannya dengan baik. Jadi, janganlah pernah berpikir anda sudah terlambat untuk menghafal quran. Lalu ketika anda memulai menghafal quran, hafalkan dan ulangi sampai anda benar-benar hafal. Jangan pindah surat sebelum anda menghafal surat yang sedang anda hafal.

Sesi Pertanyaan
1.      Ada sekolah yang familiar di Indonesia dikenal dengan nama pesantren. Dimana anak-anak disana diajari islam dan Al-Quran. Mana sebaiknya yang kita lakukan, mengajari anak-anak kita sendiri atau mengirimkannya ke pesantren. Karena seringkali orang berpendapat jika kita yang mengajarkan anak kita sendiri itu lebih barokah.
Jawab :
Dulu, ketika saya masih kecil, saya selalu meminta ayah saya mengajarkan quran pada saya. Tapi beliau selalu menolak untuk mengajarkan saya, dan selalu mengatakan “Belajarlah pada tetanggamu!” Saya bingung, kenapa dia selalu menolak untuk mengajarkan saya. Sampai akhirnya, aku tahu jawabannya. “Aku tidak ingin kamu berbahasa Arab seperti saya (Chinese), aku ingin kamu berbahasa Arab seperti orang Arab.” Alhamdulillah, sekarang saya berbahasa Arab seperti orang Arab. Jadi, jika orang lain lebih baik dari anda untuk mempelajari Quran, maka kirimlah anak anda ke sekolah-sekolah Quran tadi, tapi jika anda merasa mampu dan bisa mengajarkan anak anda sendiri kenapa tidak?

2.      Bagaimana cara membetulkan lafadz anak dalam membaca sebuah surat, misal Tabbats yada habilahabiu…..padahal kan seharusnya Tabbats yada abilahabiu…. Anak ini tuh susah disuruh berubah?
Terus saya juga punya saran, tampaknya untuk menghafal quran bisa dimulai dari sejak masa kehamilan. Karena menurut psikologi juga, saat kita hamil anak mampu mendengar suara ibunya.

Jawab :
Cara mengkoreksi lafadz anak dalam membaca sebuah surat adalah dengan mengulang-ngulangi nya sampai lafadz itu benar. Dan juga cara mengajarkan anak-anak belajar quran adalah dengan suasanya yang senang seperti memberikannya permen ketika ia bisa menghafal, dan sebagainya.
Ya benar sekali, saat hamil adalah saat yang tepat untuk memulai menghafal quran. Kalau di China, para ibu disuruh melafadzkan alphabet dan beraneka ragam kata china saat hamil, agar ketika besar nanti anaknya pandai berbahasa China (Ini hanya perumpamaan) :D

Jazakumullah khoiron katsir

Minggu, 03 Oktober 2010

Akhirnya Kesempatan Itu...

Hari sabtu, saya dan suami pergi ke Festival of Nations. Disana adalah tempat berkumpulnya semua orang asing, terutama jika anaknya bersekolah di Seisen National University. Jadi, saya ngga menemukan orang Indonesia dan Orang Turki disini, karena punya sekolah sendiri. Sempat bertemu beberapa muslimah dari malaysia yang anak-anaknya sekolah di tempat ini.

 



Ke tempat ini jelas punya tujuan, dong. Saya memang sudah buat janji sama Mari Hirako untuk melihat beberapa karya-karya beliau. Dan dengan senang hati beliau menerima saya.









Lalu saya membeli salah satu kit yang saya incar sejak dulu....SWAN COTTAGE!!! harganya mahal...tapi saya bener-bener pingin ini jadi masterpiece saya someday...Tampaknya bakalan lama ngerjain project yang satu ini...pelan-pelan aja...yang penting hasilnya bagus nanti, Amiin
 Maaf photo lukisan swan cottage yang belum disulam tidak boleh dipublish...sudah perjanjian...





Minggu, 26 September 2010

Kursus Masak di ABC Cooking

Hari Sabtu kemarin ikutan kursus di ABC Cooking. Projectnya adalah membuat Almond Roll Bread. Seperti yang saya bilang sebelumnya, kalau di Jepang segala sesuatu yang disukai harus ditekuni. Kebetulan saya ikutan kemarin cuma untuk pengenalan tentang ABC Cooking. Karena kalau ikut kursusnya beneran mahal banget, lho. Sampai kaget pas pamfletnya dikasih. Uang Pendaftaran 12.000 yen, alias Rp.1.200.000. Baru uang pendaftaran, sekali pertemuan untuk membuat roti 4.000 yen (Rp. 400.000) untuk kue 6000 Yen (Rp.600.000). Tapi beneran deh, kalau ikutan ini worth banget. Karena kita jadi tahu rahasia bikin roti yang super empuk ala Jepang, dan kue-kue yang super cantik Ala Jepang.
 
 Suasana Kursus di ABC Cooking

Our Almond Roll Bread

Ternyata, untuk membuat roti seempuk dan seenak ini ada tekhniknya. Dan tentu saja saya senang sekali, rasanya pingin lanjut nih buat ikutan coursenya yang lanjutan. Pingin banget bisa bikin usaha bakery di Indonesia kalau pulang nanti :) hehehe....

Punyaku yang warnanya bagus (coklat banget) hehehe :)

Semua pada pingin fotoin rotinya :)

Berfoto sama Roti yang sudah jadi dibuat

Berfoto bersama Yoshioka Sensei

Yoshioka Sensei orangnya baik dan lucu banget. Kalau pas kita lagi ngomong bahasa Indonesia, pasti dia kepingin tahu, apa sih apa??? hehehe....
Makasih mbak henda, kita udah diajak ke kelas ABC Cooking. Tunggu kelas lanjutannya yaaaa

Kamis, 23 September 2010

Happy Autumn


Alhamdulillah akhirnya musim gugur tiba, ditandai dengan hujan dan angin kencang sepanjang hari. Hari ini adalah hari autrumn equinox (shubun nohi), yaitu hari dimana siang dan malam memiliki panjang waktu yang sama.

Buat yang pakai jilbab, pastinya senang sekali, karena di musim ini semua toko menjual baju-baju panjang dan scarf (bisa dipakai jadi jilbab). Tadi mampir ke Ito Yokado (salah satu mall dekat rumah), banyak banget boots, coat, baju-baju panjang dan scarf. 

IT‘S TIME FOR AUTUMN FASHION, LADIES!!!!
HAPPY AUTUMN

Minggu, 19 September 2010

Ketekunan Orang Jepang "Ichi Ni Narimasu"

Saya mencari-cari kenapa Jepang selalu menjadi nomor satu dalam segala hal. Teknologi, Jepang nomor satu di dunia, setara dengan Jerman, bahkan Jerman hampir kalah. Karena teknologi Jepang mampu menghemat penggunaan bahan bakar di dunia. Lalu dari segi budaya, Jepang juga nomor satu. Indonesia juga memiliki budaya yang bagus, tapi apa pernah melihat orang jalan-jalan di stasiun, mal, atau tempat-tempat umum dengan memakai pakaian daerah. Di jepang, saya sering melihat ibu-ibu, anak remaja, memakai yukata atau kimono baik di kereta, mal, dan tempat umum lainnya.

Dalam hal kerajinan tangan pun, Jepang masih menduduki nomor satu. Buku-buku kerajinan tangan, baik menjahit, design, dan sebagainya masih menduduki nomor satu, karena design yang menarik dan inovatif. Bahkan designer Kenzo dan Anna Sui pun mulai dilirik oleh dunia karena keunikan dalam gayanya.Saya akhirnya bertanya-tanya kenapa mereka selalu nomor satu, padahal hampir bisa dibilang kepintaran mereka tidak terlalu atau tidak ada yang spesial, semuanya sama.



Apa yang membuat mereka menjadi nomor satu? Jawabannya adalah karena ketekunan.
Orang Jepang itu sangat konsern dalam satu bidang, mereka mempelajari hal yang mereka sukai itu betul-betul dengan sepenuh hati. Contohnya adalah sensei saya, Mari Hirako. Beliau belajar menyulam itu sampai jauh sekali pergi ke Cape Town, Afrika Selatan. Karena master sulam Di Van Niekerk, tinggal disana.

Lalu juga ada kebudayaan Sumo, pasti sudah tahu, kan? Ya, Untuk menjadi seorang sumo itu ada sekolah SMAnya, ya SMA khusus untuk menjadi sumo, yang dipelajari ya bagaimana cara menjadi Sumo. Tidak belajar fisika, biologi, dan lain-lain. Intinya mereka akan konsern dengan hal yang mereka sukai, dan menekuninya hingga menjadi yang terbaik

Lalu ada lagi tentang origami, disini ada lho master origami dan ada sekolahnya juga. Bahkan salah satu teman saya sekarang sudah menjadi master origami lulusan Jepang. Namanya Mbak Maya Hirai, beliau sekarang sudah kembali ke Indonesia dan membentuk Sanggar Origami di Bandung.

Jadi untuk menjadi yang terbaik bukan berarti harus mempelajari semuanya, anda cukup mempelajari satu hal saja dan menekuninya hingga menjadi master di bidangnya, maka anda akan menjadi nomor satu. Karena orang Jepang sendiri tidak bisa membaca semua kanji-kanji khusus. Seorang seniman tidak bisa membaca kanji khusus kedokteran, begitu pula sebaliknya. Maka dari itu, mereka menekuni bidangnya saja.  Ada sebuah kata-kata yang saya ingat dalam sebuah dorama di Jepang "Ichi ni Narimasu" Jadilah nomor satu.

Saya ingin menjadi nomor satu di Jepang. (Mimpi????)  Tapi mimpi yang dilakukan dengan pembuktian akan menjadi kenyataan, meskipun harus menunggu sangat lama, lama, dan lama.

Minggu, 12 September 2010

Ramadhan in Japan "Eid Mubarak"

Masjid Jami' Yokohama

Ternyata Ramadhan di Jepang begitu indah, kenapa saya bisa berkata seperti ini? Padahal kalau dibandingkan dengan di Indonesia, suasananya tidak meriah, tidak ada yang namanya acara-acara Islami. Terlebih lagi, Ramadhan bertepatan dengan musim panas, dimana hampir semua cewek-cewek di Jepang pakai baju tank top, bikini, dan sebagainya. Suasana yang tidak mendukung bukan???

Tapi, saya katakan Ramadhan di Jepang begitu indah. Di hari-hari pertama saya benar-benar tidak merasakan suasana Ramadhan, benar-benar yang saya rasakan hanya haus dan lapar, jiwa saya kosong. Akan tetapi, semuanya berubah ketika sepuluh hari terakhir. Saat sepuluh hari terakhir, saya akan berusaha untuk tarawih dan i'tikaf di masjid. Walaupun jauh dan melelahkan, tapi saya tetap semangat untuk berangkat ke masjid saat itu.

Di sepuluh hari terakhir inilah, saya merasakan indahnya Ramadhan. Dan di sepuluh hari terakhir inilah yang mengubah paradigma hidup saya di jepang ke depan nantinya.

Saya bertemu dengan saudara seiman dari berbagai negara, Malaysia, Pakistan, Sri lanka, Mesir, dan lain sebagainya. Kulit hitam, kulit putih, mata belok, mata sipit, hidung mancung, hidung pesek,  pertengkaran politik antar negara (Indonesia vs Malaysia), dan semua perbedaan disatukan dalam keadaan ISLAM. Kami saling berbagi, berbuka puasa bersama dengan menu yang sangat lezat khas Pakistan (karena kebetulan Masjid Yokohama didirikan oleh orang Pakistan). Makan bersama, shalat bersama, tidur bersama, belajar bersama, dan lain sebagainya. Benar-benar indah, dan tidak pernah saya rasakan di Indonesia. Saya pernah merasakan hal ini ketika saya Umrah di Saudi Arabia. Dan saya merasa suasana ini seperti di Saudi, bukan di Indonesia ataupun Jepang.

Ada sebuah cerita menarik yang  sangat membuatku terkesan. Saat itu aku sedang berbincang dengan teman-temanku, kita sedang ngobrolin hafalan Quran, lalu temanku bertanya "Surat An-Naba yang mana sih?" Lalu aku membacakannya, dan saat itu mata semua orang tertuju padaku. Aku jadi malu, lalu beberapa saat kemudian, seorang ibu asal pakistan mendekatiku "Is this your first time in here?" "No, my third i think",
"I live near here, only 10 minutes, And our imam is my Son, he's hafidz Quran." "Wow, Masya Allah, i wish i can memorize quran but difficult." "Yes, But sure you can."

Ternyata ibu tersebut adalah seorang pegawai kedutaan besar Pakistan. Saya benar-benar terperangah, saya diajak ngobrol oleh seorang pejabat Pakistan. Berbeda sekali dengan orang-orang kedutaan besar Indonesia di sini, birokratis, tidak merakyat, dan kadang seringkali menganggap kami seperti layaknya tidak pantas sejajar dengan mereka. Bahkan saya pernah dimarahi mereka, saat persiapan buka puasa bersama di kedutaan, saat itu saya membantu memotong buah malah dimarahi.

Back to the story,
Kalau di Masjid Yokohama yang dipamerkan adalah keimanan, hafalan Quran, intensitas kedatangan ke Masjid, dan yang lainnya. Berbeda kalau shalat di Balai Indonesia (Sekolah Republik Indonesia Tokyo) milik kedubes, yang dipamerkan adalah I phone seri terbaru, I Pad, dan lain-lain

Padahal pingin Shalat Idul Fitri di Masjid Yokohama, tapi suamiku pingin shalat di Balai Indonesia. Maksudnya Shalat di Masjid tapi nanti silaturrahim ke balai Indonesia, tapi suamiku ngga mau. Benar sesuai dugaan, Shalat Idul Fitri jadi ngga menyenangkan sama sekali. Semua orang berisik ngga ada yang mendengarkan ceramah. Sampai di Rumahnya pak Kedubes ngelihat satpam lagi marah-marah, terus lagi shalat si Ibu pegawai balai Indonesia marah-marah. Capek deh, Niat Idul Fitri ngga sih????

Kalau mau berasa Ramadhannya, carilah masjid atau tempat berkumpul yang dapat memperkuat keimanan kita.


"Eid Mubarak, Minal Aidin Wal Faidzin. I love my Sister And Brother in Islam

Minggu, 05 September 2010

Aku ngga boleh minder

glitter-graphics.com

Aduh, waktu terus berjalan nih....Ngga terasa aku sudah di usia 24 tahun sekarang, tapi amalan ibadahku sudah sampai dimana ya, apa masih seperti anak SD, mungkin jauh lebih buruk. Ya Allah....

Masa muda ini akan ku isi dengan sebaik mungkin, dan aku harus mencapai prestasi. Mungkin kalau di dunia perkuliahan dulu, kita bersaing dengan nilai IPK. Tapi, kini kita harus berprestasi bukan dengan IPK. Semalaman aku berpikir, aku hanyalah seorang ibu rumah tangga, hanya lulusan sarjana. Seringkali aku minder hidup di Jepang, karena kondisiku seperti itu. Setiap kali bertemu orang di masjid, di kalangan orang-orang Indonesia, dan di manapun pasti bertemu dengan mahasiswa S2, S3, profesor, bekerja di perusahaan ternama, dan sebagainya. Aku???

Maka dari itu, semalaman aku menangis dan bodohnya aku menangis hanya karena rasa minder ini. Tiba-tiba, aku teringat tulisanku yang dulu tentang nick, seorang cacat yang bisa memotivasi orang lain. Lalu tiba-tiba pula, otakku terputar kembali kepada isi majalah tarbawi yang sudah usang, seorang lelaki buta penghafal quran. Ya, inilah kisah inspiratif yang menghapus air mataku.

Busakorn namanya, asal thailand. Beliau adalah penghafal Al-Quran yang mendapat gelar Mumtaz dari
Internasional Organization for Memorizing the Qur’an (IOMQ) di Jeddah, Saudi Arabia. Dia tidak pernah sekolah formal sedikitpun, karena sekolah formal untuk tuna netra hanyalah untuk orang budha. Orang ini menginspirasiku, dan benar-benar membuat hari-hariku bahagia kembali.

Di usia saya yang baru masuk 24 ini, saya memiliki targetan yang harus saya capai sampai tahun depan.
1. Saya ingin hafal Quran 2 juz hingga tahun depan. Mudah-mudahan bisa lebih.
Sebetulnya saya sudah hafal juz 30, tetapi tampaknya saya harus muraja'ah lagi dan membetulkan tartilnya dengan sempurna panjang pendeknya. Saya kali ini benar-benar bertekad untuk menghafal quran, saya malu pada Allah, Astaghfirullah.

2. Mengambil kuliah syariah online, agar bisa menjadi lebih baik.
Meskipun hanya online dan harus mengulang dari S1 buat saya tak masalah. saya ingin belajar syariah karena memang ingin menuntut ilmu. Saya ingin berdakwah dengan benar, benar dalam berfatwa dengan dalil-dalil yang jelas, tidak asal-asalan berfatwa. Ditambah juga saya ingin belajar bahasa Arab. Alhamdulillah semua disediakan oleh kampus syariah.

3. Saya ingin mengembangkan hobi saya di dunia sulam menyulam. Maka dari itu, semalam saya mengkontak Mari Hirako untuk sekolah di tempatnya. Saya harus belajar dari yang profesional. Mungkin saya tak bisa menjadi seorang ilmuwan, profesor, karena memang otak saya tak mampu berpikir keras seperti itu. Tapi, saya punya kelebihan yang lain yang bisa saya andalkan. Saya bersyukur, Allah menciptakan kelebihan untuk saya dibalik kekurangan yang lain.

Oleh karena itu, mungkin 3 target sangatlah sedikit....tapi saya mau serius, saya ngga mau macam-macam, saya mau fokus dengan 3 target ini. Saya akan lakukan sebaik mungkin, hingga menjadi yang terbaik.

Bismillahirrohmannirrohiim, dengan tiga target ini insya Allah saya akan bertahan hidup, saya akan menjalani masa muda saya, semua saya akan persembahkan untuk Allah semata demi Syurga-Nya. Saya hanya ingin masa muda saya penuh karya, dan semua karya akan saya persembahkan untuk Allah.Cukup 3 target, tapi saya akan berjalan disini, dan menjadi yang terbaik disini. Saya percaya, harapan masih ada buat saya

Kamis, 02 September 2010

Muhasabah di Usia Saya 24 Tahun

24 tahun????

Masih muda sekali ya, sudah menikah....Bagi saya, saya sudah tua....artikel kali ini, saya akan membuat puisi.


glitter-graphics.com

MUHASABAH RINDU PADA-MU

Rindu itu hadir
Disambut dengan zikir
Zikir yang sempat terputus
Kini dia menyambutku kembali

Sepi memang tak bertepi
Tapi Kau selalu menemani
Maafkan aku yang khilaf
Pergi sejenak yang melena

Aku kini kembali
Walau tak seutuhnya membawa rindu
Tapi ini yang terbaik

Aku masih berharap jumpa
Di tempat yang bernama surga
Semoga masih ada celah untukku
meskipun kecil dan hanya cahayanya saja

Semoga rindu ini tetap terjaga
Dan tak lekang oleh tempat
Yang bernama dunia.