Senin, 27 Desember 2010

Negeri `Pembantu`

Akhir-akhir ini heboh status di facebook yang menarik perhatian saya
"Aduh, susah amet sih cari pembantu"
"Ini pembantu lelet banget, sih"
"Ga ada pembantu, aduh repotnya"

Maklum saja, teman-teman saya adalah kalangan ibu rumah tangga. Jujur, ketika saya membaca status-status mereka saya cuma bisa ketawa dan bercokol dalam hati "Dasar Indonesia!". Lho, kenapa jadi nyambung-nyambungnya Indonesia, sih? Karena profesi pembantu itu cuma ada di Indonesia dan India. Dan exportir TKW alias pembantu terbanyak adalah dari Indonesia. 

Saat lagi mengandung seperti saat ini, rasanya berat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Masak, nyetrika, beres-beres, dan lain sebagainya. Tapi mau bagaimana lagi, saya hidup di negara yang tak mengenal profesi pembantu. Hampir di setiap negara maju tidak ada profesi pembantu rumah tangga. Mungkin hanya pejabat saja yang punya "asisten rumah tangga" dan itupun digaji sangat besar sekali. 

Pernah berandai-andai bersama ibu-ibu yang lain, coba ya, di Jepang ada pembantu, lumayan cuma buat nyetrika aja, deh. Sayangnya, kami harus menyimpan harapan kami. Malas nyuci dan nyetrika, semua orang disini tinggal pergi ke kurininggu (Laundry) saja, beres deh! Tapi, biaya laundry kan mahal, sayang uangnya kalau harus ke laundry tiap hari, mending ditabung buat beli tiket liburan ke Indonesia atau jalan-jalan ke negara lain.

Di negara maju, ngga ada istilah pembantu. Mau punya anak 4 orang, 5 orang, atau berapa tetap saja semua pekerjaan dikerjakan sendiri. Memang, sih disini tidak ada pembantu, tapi disini masih ada nanny  (pengasuh anak). Tapi, nanny disini beda jauh sama baby sitter  di Indonesia, dari segi peran maupun segi penghasilan.

Sebagai contoh, sebelum saya mengandung, saya ditawari oleh seorang muslimah Jepang untuk mengasuh anaknya. Hanya 3 Jam sehari, mulai dari jam 16.00-19.00. Dengan gaji 1000 yen per jam (di kurs Indonesia Rp.100 ribu). Hanya kerja 3 jam per hari, dari hari senin-jumat (5 hari kerja). Jika di total maka gajinya adalah 60.000 yen per bulan alias Rp.6 juta. Dengan gaji sebesar itu, masih bisa menikmati libur di hari sabtu-minggu, masih bisa sekolah bahasa jepang dulu paginya, masih bisa masak buat keluarga saya. Nikmat, kan!

Nah, di negara maju pula, Jepang salah satunya. Ada sistem penitipan anak untuk ibu yang bekerja, Hoikuen namanya. Hoikuen ini ada yang disediakan pemerintah Jepang, ada pula yang disediakan oleh pihak swasta. Waktu itu, saya iseng-iseng cari pekerjaan di sebuah situs penyalur kerja di Jepang. Saya search Hoikuen, dan saya mau menjadi pengasuh. Banyak sekali pilihan yang ditawarkan, mulai dari tempat sampai gaji. Berbicara gaji yang ditawarkan oleh para Hoikuen tersebut sangat variatif, tapi semuanya sangat menggiurkan berkisar dari 180.000 yen-200.000 yen per bulannya, atau sekitar Rp.18 juta-Rp.20 juta. Melebihi beasiswa yang diberikan ke mahasiswa di Jepang yang hanya berkisar 120.000 yen-180.000 yen per bulannya. 

Terlihat sekali, bahwa peran pengasuh di negara maju dengan peran baby sitterdi Indonesia sangat berbeda. Peran pengasuh di negara maju, seperti layaknya guru TK yang membimbing anak-anak yang dititipkan agar menjadi kreatif, dan yang boleh menitipkan anak di Hoikuen adalah ibu yang bekerja, ibu rumah tangga tidak diperbolehkan menitipkan anaknya di Hoikuen.Sedangkan peran baby sitter di Indonesia hanya sekedar jadi "kacung" untuk ganti popok, nyuapin bayinya, dan pekerjaan yang sebetulnya bisa dilakukan oleh ibunya sendiri. 

Tapi, tetap saja di negara maju tidak ada profesi pembantu. Sang ibu hanya bisa menitipkan anaknya, lalu mengambil anaknya sekitar pukul 17.00 dan setelah itu semua ibu-ibu di negara maju harus memasak, menyetrika baju sendiri, mencuci, memomong anaknya kembali, dan segala macam pekerjaan yang dilakukan oleh para pembantu di Indonesia. 

Makanya saya katakan "Dasar Indonesia", karena di Indonesia saat ini, para ibu rumah tangga tidak bisa lepas dari jeratan para pembantu. Saya, sih mengambil hikmahnya saja ketika saya hidup di Jepang tanpa pembantu. Badan saya jadi sehat, karena banyak beraktivitas. Lalu, saya dan suami juga tidak risih ketika kami mau bermesraan. Sebetulnya tidak memakai pembantu banyak manfaatnya, lho.

Justru, ketika kita memakai pembantu yang tinggal 24 jam di rumah kita seringkali menjadi petaka. Seperti contoh, ada sebuah cerita di Indonesia, seorang warga negara Australia menikah dengan seorang wanita Indonesia. Mereka hidup sangat makmur sekali di Indonesia, hingga sang istri hanya mengandalkan pembantunya untuk memasak, menyiapkan makanan, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya sang WNA tadi menikah lagi dengan pembantunya. 

Ah, Indonesia memang negeri `pembantu`. Seandainya di Indonesia tidak ada profesi pembantu, maka negeri kita akan memiliki kembali harga dirinya. Tidak lagi direndahkan oleh negeri tetangga karena profesi orang indonesia disana kebanyakan adalah pembantu, tidak lagi ada rumah tangga yang rusak, tidak ada lagi anak-anak yang terdzolimi karena ibunya harus merantau jadi pembantu, dan lain sebagainya.

Salam ^^
Nurul Septiani, Yokohama 
28 Desember 2010

10 komentar:

  1. Setuju Banget Mbak..

    Mentang2 gaji pembantu di sini murah, (300 ribu per bln), mereka sudah lepas tangan g mau direpotkan dengan tetek bengek urusan rumah tangga.
    seandainya pengen pakai jasa pembantu, sebaiknya mereka mau menggaji si pembantu tadi dengan gaji minimal UMR plus tunjangan kesehatan, hari tua, kecelakaan dsb.. :)

    BalasHapus
  2. mama kinan : yupz banget, murah amet yak gaji pembantu disono......kasihan

    BalasHapus
  3. setujuuu..
    kalau ada pembantu anak2nya jadi malas mengerjakan pekerjaan rumah, semua dibebankan ke pembantu.
    jadi gak mandiri..

    BalasHapus
  4. mbak nurul, fety juga sepikiran seperti ini. bbrp tmn2 juga mengeluhkan hal yang sama di FB.

    BalasHapus
  5. amel : yups betul
    mbak fety : ternyata bukan saya saja yang merasakannya.....

    BalasHapus
  6. nice post.aku sukaaaa deh tulisan mba nurul :) :)

    BalasHapus
  7. duh,,, diriku ini harus lebih giat bekerja ga boleh manja, tapi jadi oshin di rumah sendiri itu buera ya mba,,, hehehe....

    BalasHapus
  8. Hihihi, jd kesentil nih diriku mbak krn masih pake jasa asisten wlo cm datang seminggu 3x aja.... Thanks for sharing mbak, jd termotivasi untuk bs ngerjain RT sendiri pdhl sy udah jd ibu RT loh ga kerja kok ya masih pake asisten RT...
    Ga nyangka pas liat fotonya di badge FB samping kiri, kayak kenal suaminya, ternyata Ashari thooo.... hehehe.. Saya temen kampusnya dulu... Salam ya mbak....

    BalasHapus
  9. Salam kenal mba nurul,, Saya in gin bekerja dijepang,, Tapi dengan umur saya yg sudah 30 saya mencoba untuk ikut Magang Tapi tidak bisa karna tinggi saya hanya 145 cm,, apakah mba nurul bisa membantu saya??terakhir data mengeluarkan unag 30 juta Tapi nasib saya malang,, Agen yg membantu saya malah tidak bisa dihubungi, mohon pencerahan, bisakah data menghubungi mba nurul??nama facebook saya lannysupit.terima kasih

    BalasHapus